Sabtu, 21 April 2018

Squash

Squash Olahraga Tersehat di Dunia

squash-game
Selalu ada banyak pilihan untuk menjadi sehat. Olahraga adalah salah satu cara yang sering ditempuh untuk mencapai kondisi fisik prima. Namun, tahukah Anda olahraga yang paling sehat? Lupakan sepak bola, basket, voli, renang, atau bulu tangkis.  Setidaknya menurut Forbes, olahraga paling sehat adalah squash!
Dalam daftar 10 olahraga paling sehat, squash ada di urutan teratas mengalahkan dayung, rock climbing, dan renang. Simpulan itu didapat Forbes berkat konsultasi dengan beberapa pakar kebugaran, pelatih, dan ahli fisiologi terkemuka di dunia. Apa yang membuat squash dinobatkan sebagai olahraga tersehat di dunia?
Ternyata, 30 menit bermain squash bisa menghasilkan latihan kardio dan pernapasan yang impresif serta membakar tak kurang dari 517 kalori. Dengan adanya banyak rally dan keharusan untuk terus berlari, squash juga bermanfaat dalam menguatkan otot, meningkatkan daya tahan tubuh bagian bawah, serta memperbaiki kelenturan perut dan punggung. Selain itu, squash dapat meningkatkan daya konsentrasi dan kekuatan mental seseorang.
Lantas, bagaimana squash dimainkan? Secara sederhana, squash dimainkan di lapangan 10 x 6 meter yang dibatasi empat dinding setinggi kira-kira 5—6 meter. Alat yang dibutuhkan hanyalah raket dan bola yang khusus untuk permainan squash. Dalam permainan tunggal, lapangan diisi dua pemain yang harus terus memantulkan bola ke dinding depan dan bola tak boleh memantul di lantai lebih dari satu kali. Bingung? Cobalah.
Di Jakarta, ada beberapa pusat squash yang dapat disambangi, seperti Gelora Bung Karno (GBK) Gate 8—9, Club 25 Kemang, International Sports Club of Indonesia (ISCI) di Ciputat, atau Bimasena Dharmawangsa. Anda tak perlu khawatir jika belum memiliki raket atau bola squash. Umumnya, pusat squash juga menyediakan fasilitas penyewaan raket dan bola. Anda cukup datang dengan pakaian dan sepatu olahraga yang nyaman digunakan untuk bergerak.
Sutaji, pengelola pusat squash di GBK Senayan, menyatakan bahwa antusiasme warga Jakarta terhadap squash agak meningkat belakangan ini. Dengan manfaat dan atribut squash yang telah dijelaskan, olahraga ini memang cocok dengan kehidupan kota modern seperti Jakarta. Dalam waktu yang singkat, berbagai hasil maksimal dapat dicapai lewat squash. Selain itu, lapangan yang relatif kecil dan indoor juga menonjolkan efisiensi squash dalam konteks urban.
Salah satu artis Ibukota yang rutin memegang raket squash adalah Raisa Andriana. Pelantun lagu “Jatuh Hati” ini aktif bermain squash dalam setahun terakhir lantaran terpengaruh kakak dan sepupunya. Biasanya, Raisa mengunjungi pusat squash GBK Senayan dua kali seminggu, bahkan bisa lebih jika jadwalnya tidak terlalu padat. Kelebihan squash, menurut Raisa, adalah dilakukan dalam ruangan sehingga tidak bergantung pada cuaca dan menuntut fast pace sehingga baik untuk kardio dan pernapasan. “Squash seru banget. Melelahkan, tetapi super satisfying,” ujar Raisa.
Seperti yang dikatakan Raisa, squash memang sangat melelahkan. Sutaji menceritakan bahwa di pusat squash GBK, tidak banyak yang bermain squash selama dua jam. Kebanyakan hanya menyewa lapangan selama sejam, karena dalam kurun waktu itu saja squash telah banyak menguras energi. Dengan tingkat stamina tinggi yang diperlukan, melakukan yoga, sprint, atau lari jarak jauh akan menjadi persiapan yang baik untuk bermain squash. Tubuh akan terasa lebih ringan sehingga bisa bergerak dengan lebih cepat dan fleksibel di atas lapangan squash.
Pemanasan yang benar sebelum mengayunkan raket squash juga penting guna menghindari cedera, terutama cedera di bagian paha dan telapak kaki. Jika proses warming up berjalan sempurna, bermain squash akan sangat aman karena risiko cedera pada olahraga ini terhitung rendah dibanding dengan olahraga-olahraga lain. Namun tetap saja, Anda harus selalu fokus saat bermain squash. Bisa-bisa pantulan bola atau bahkan raket lawan mengenai badan. Squash the ball, be healthy, yet always be wary!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar